Jumat, 11 Januari 2019

MASTURBASI POLITIK ; KAPAN POLITISI SADAR ?

 


Tragedi itu terjadi lagi. Pencitraan dan janji politik palsu kembali menjadi tranding topik pembicaraan hangat masyarakat. Telinga-telinga politisi kembali dibuka untuk mendengarkan saran dan masukan rakyat.

Kita semua boleh berbangga. Banyak politisi yang kini aktif turun kejalan, Tak peduli panas dan hujan mereka siap siaga menunjukan rasa simpati pada Rakyat jelata. Tak mau ketinggalan para akademisi dan aktivis politik-pun tak henti-hentinya menunjukan rasa peduli terhadap penderitaan masyarakat yang digilas hukum dan ketidakadilan. Di satu sisi para pemuka agama turut berpartisipasi aktif  menyuarakan suara hati rakyat jelata.

Untuk apa itu semua ?

semuanya tentu memiliki niat dan cita-cita untuk memperbaiki sistem perpolitikan di indonesia menjadi lebih baik lagi. Namun bagi Rakyat jelata, semua itu hanyalah ilusi euforia demokrasi semata. Rakyat masih berhati-hati untuk tidak terperosok lagi dalam lubang masalah yang sama. 

Di dalam pola konflik yang berulang  tersebut, seharusnya politisi sadar masih terdapat trauma dan  rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap janji politik sebelumnya yang perlu di obati. Bukan tanpa sebab, semua hal tesebut mempengaruhi pangilan hati rakyat untuk terus berhati-hati memilih pemimpin. Panggilan hati tersebutlah yang mengetuk hati dan diri rakyat, untuk mengarahkan pilihanya terhadap pemimpin yang benar-benar memperjuangkan aspirasinya. Berdasarkan hal tersebutlah seharusnya politisi lebih sadar dan peka terhadap hati dan perasaan rakyat. Namun di indonesia mereka semua seolah tidak pernah belajar dari kejadian dan kesalahan di masa lalu.

Sudah saatnya politisi merenungi dan  belajar dari Subcomandate Marcos, seorang gerilyawan revolusioner di pedalaman Meksiko era 1990-an, tentang apa sesungguhnya politik itu.
Di dalam salah satu wawancaranya, ia mengatakan sesuatu yang menjadi kritik tajam pada gaya politik dunia sekarang ini. “percaya bahwa kita dapat berbicara atas nama mereka yang di luar jangkauan kita”.(seperti dikutip oleh Goenawan Mohammad,2010) bukankah itu yang terjadi di indonesia sekarang ? alih-alih menjadi ujung tombak emansipasi, politik justru menjadi ajang masturbasi para pemimpin pemerintahan, yang merasa mewakili mereka yang sesungguhnya tidak pernah disentuh.

Kita semua sadar, bagaimanapun nikmatnya masturbasi. Masturbasi  hanyalah imajinasi. Tidak ada intiminasi di dalamnya. Eksistensi pribadi menjadi begitu atomik. Terputus dari orang yang di cintai. Yang di sentuh adalah benda. Masturbasi adalah penipuan alat kelamin dengan memanfaatkan liarnya imajinasi erotik. (Reza A.A.Wattimena, 2011)
Masturbasi politikpun demikian. Ia merupakan Eksistensi pribadi yang semu, sebab tak ada rangsangan dan intimasi antara rakyat dengan para calon wakilnya. Semua hanyalah imajinasi dan kepalsuan.

Lantas, Mau sampai kapan kita terus diam ? apakah harus menunggu dampak dari kesalahan yang kita buat ? bukankah itu sudah terlambat ? pada akhirnya saya  perlu menuliskan catatan singkat ini agar kita semua sadar bahwa selama ini kita terkungkung dalam ketakutan untuk berpendapat dalam hal yang benar.
Kalaulah bukan kita yang menulis dan meneruskan pesan ini kepada anak cucu kita ? maka siapa lagi ?
Pilihan ada pada Anda !!!

KAPAN POLITISI SADAR ?

Ayok, Ngopii...Tulisan ini sekedar menjawab pertanyaan  Sahabat saya.

Wallahu A'lam Bishawab 

 

MASTURBASI POLITIK ; KAPAN POLITISI SADAR ?

  Tragedi itu terjadi lagi. Pencitraan dan janji politik palsu kembali menjadi tranding topik pembicaraan hangat masyarakat. Te...