Tragedi itu terjadi
lagi. Pencitraan dan janji politik palsu kembali menjadi tranding topik
pembicaraan hangat masyarakat. Telinga-telinga politisi kembali dibuka untuk mendengarkan
saran dan masukan rakyat.
Kita semua boleh
berbangga. Banyak politisi yang kini aktif turun kejalan, Tak peduli panas dan
hujan mereka siap siaga menunjukan rasa simpati pada Rakyat jelata. Tak mau
ketinggalan para akademisi dan aktivis politik-pun tak henti-hentinya menunjukan
rasa peduli terhadap penderitaan masyarakat yang digilas hukum dan
ketidakadilan. Di satu sisi para pemuka agama turut berpartisipasi aktif menyuarakan suara hati rakyat jelata.
Untuk apa itu semua
?
semuanya tentu
memiliki niat dan cita-cita untuk memperbaiki sistem perpolitikan di indonesia
menjadi lebih baik lagi. Namun bagi Rakyat jelata, semua itu hanyalah ilusi
euforia demokrasi semata. Rakyat masih berhati-hati untuk tidak terperosok lagi
dalam lubang masalah yang sama.
Di dalam pola
konflik yang berulang tersebut,
seharusnya politisi sadar masih terdapat trauma dan rasa ketidakpercayaan rakyat terhadap janji politik
sebelumnya yang perlu di obati. Bukan tanpa sebab, semua hal tesebut
mempengaruhi pangilan hati rakyat untuk terus berhati-hati memilih pemimpin.
Panggilan hati tersebutlah yang mengetuk hati dan diri rakyat, untuk
mengarahkan pilihanya terhadap pemimpin yang benar-benar memperjuangkan
aspirasinya. Berdasarkan hal tersebutlah seharusnya politisi lebih sadar dan
peka terhadap hati dan perasaan rakyat. Namun di indonesia mereka semua seolah
tidak pernah belajar dari kejadian dan kesalahan di masa lalu.
Sudah saatnya
politisi merenungi dan belajar dari Subcomandate
Marcos, seorang gerilyawan revolusioner di pedalaman Meksiko era 1990-an,
tentang apa sesungguhnya politik itu.
Di dalam salah satu
wawancaranya, ia mengatakan sesuatu yang menjadi kritik tajam pada gaya politik
dunia sekarang ini. “percaya bahwa kita dapat berbicara atas nama mereka yang
di luar jangkauan kita”.(seperti dikutip oleh Goenawan Mohammad,2010) bukankah
itu yang terjadi di indonesia sekarang ? alih-alih menjadi ujung tombak
emansipasi, politik justru menjadi ajang masturbasi para pemimpin pemerintahan,
yang merasa mewakili mereka yang sesungguhnya tidak pernah disentuh.
Kita semua sadar,
bagaimanapun nikmatnya masturbasi. Masturbasi
hanyalah imajinasi. Tidak ada intiminasi di dalamnya. Eksistensi pribadi
menjadi begitu atomik. Terputus dari orang yang di cintai. Yang di sentuh
adalah benda. Masturbasi adalah penipuan alat kelamin dengan memanfaatkan
liarnya imajinasi erotik. (Reza A.A.Wattimena, 2011)
Masturbasi
politikpun demikian. Ia merupakan Eksistensi pribadi yang semu, sebab tak ada
rangsangan dan intimasi antara rakyat dengan para calon wakilnya. Semua
hanyalah imajinasi dan kepalsuan.
Lantas, Mau sampai
kapan kita terus diam ? apakah harus menunggu dampak dari kesalahan yang kita
buat ? bukankah itu sudah terlambat ? pada akhirnya saya perlu menuliskan catatan singkat ini agar
kita semua sadar bahwa selama ini kita terkungkung dalam ketakutan untuk
berpendapat dalam hal yang benar.
Kalaulah bukan kita
yang menulis dan meneruskan pesan ini kepada anak cucu kita ? maka siapa lagi ?
Pilihan ada pada Anda !!!
KAPAN POLITISI SADAR ?
Ayok, Ngopii...Tulisan ini sekedar menjawab
pertanyaan Sahabat saya.
Wallahu A'lam Bishawab
